Sebagai wanita Indonesia yang terlahir sebagai muslim, gue bangga menjadi bagian dari mayoritas Muslim yang berada di Indonesia. Jangan salah bok, meskipun berasal dari Papua, bukan berarti gue pindah agama atau gimana ya. Kenapa gue ngomong kayak gini, karena pas ada yang nanya asal gue trus gue bilang dari Papua pada heran gitu. Kok bisa orang Papua Muslim?

Sekilas Info

Wilayah asal gue (Ayah) adalah dari Kaimana (dan Fakfak) dimana mayoritas penduduknya adalah Muslim. Ini dikarenakan wilayah ini deket banget dengan sisa-sisa kemegahan Kesultanan Tidore di masa kejayaannya dulu.

Wilayah dimana gue lahir dan besar aka Jayapura, yang merupakan mantan ibu kota provinsi Papua (sebelum Papua Barat mekar) adalah kota yang lumayan banyak berkembang. Disini udah multi culture banget dan banyak pendatang juga dari luar Papua. Makanya meskipun nggak mayoritas, tapi komunitas Muslim disini cukup berkembang pesat.

Balik ke Jaman Now + Disclaimer

Gue bukan Ustadzah atau Haji ya, kelakuan gue juga masih banyak yang nggak beres, cuma gue banyak memperhatikan dan ya kali nunggu orang pada baik dulu semua baru mulai saling memberitahu. Mau mulai kapan kita bisa saling memberitahu?

Back to the topic…

Muslim semakin dipandang dimata dunia. Kita udah mulai merasakan perhatian dunia kepada komunitas muslim di berbagai bidang. Gue udah pengen ngebahas ini dari lama sih. Mengenai beberapa hal yang gue rasa agak kurang pas mengenai perilaku Muslim (ya Muslimah sih, secara gue juga Muslimah) di Indonesia.

Karena gue anak beauty (dan fashion dikit-dikit), gue bangga banget dengan banyaknya Influencer dari ranah ini yang became “BIG” dan kita bisa liat berbagai campaign yang dikeluarkan dunia international dengan tema “Modest”. Meskipun masih banyak kekurangan di dalamnya, tetep aja ada rasa besyukur ketika kita sudah mulai dilirik untuk menjadi “Part of the Community” in a bigger picture.

Islam KTP

Sebagai negara dengan presentasi Muslim yang mencapai 90%, agama sudah menjadi bagian dari kehidupan kita banget lah. Bahkan tidak ada satu warga Negara pun yang nggak punya agama. Ya iya lah, soalnya mau dapat KTP harus punya agama. Tapi kadang sangat disayangkan karena Muslim adalah semata-mata menjadi identitas. Makanya kita sering banget denger yang namanya Islam KTP. Artinya di KTP yang bersangkutan agamanya Islam, tapi pada kenyataannya nggak melakukan kewajibannya sebagai muslim (tapi haknya nuntut mulu).

Mulai dari Islam KTP ini lah banyak kita temui pemakaian Jilbab yang seadanya. Sering banget nggak sih ngelihat ibu-ibu/mbak-mbak dengan memakai Jilbab (langsungan) tapi pakai baju lengan pendek. Alasannya panas lah, nggak praktis lah, banyak deh.

Banyak juga jilbab-jilbab sexy yang beredar di kalangan ciwi-ciwi hits. Nggak bisa dipungkiri kalo gue kadang-kadang sangat tergoda dengan jenis pakaian model begini, apalagi dengan mindset lagi “nyari pasangan” atau “body gue bagus begini, sayang aja nggak dipamerin”.

Trend Hijrah

Alhamdulillah saat ini sudah semakin banyak Muslim dan Muslimah yang mulai berhijrah. Gue liat banyak temen gue yang sudah mulai dengan hal-hal kecil seperti mulai dengan memperbaiki sholat dan ibadah lain, juga menggunakan pakaian syari. Yang gue perhatikan, karena ini sekarang sepertinya menjadi trend (kita bisa liat di Tanah Abang model pakaiannya udah mulai jadi syari semua), banyak banget para Muslimah yang latah. Jadi Hijrah ini dipandang sebagai mode. Takutnya ntar bakal kayak dulu jaman sekolah di sekolah islam atau ikutan pesantren, pake bentar, kalo bosen buka deh.

Komunitas Muslim dan Mesjid Sebagai Rumah Kita

Gue sangat ngerti bahwa banyak orang yang expect untuk sama dengan yang lainnya ketika ingin mengikuti suatu komunitas. Misalkan semua pake warna putih, ya semua harus pake warna putih. Beda dikit nggak masalah lah.

Permasalahan yang gue temani dan alami adalah pada saat menginjakkan kali di Mesjid. Gue nggak tau sejak kapan hal seperti ini terjadi. Perasaan dulu waktu gue masih kecil, Mesjid adalah tempat yang sangat tenang dan kita bisa lebih konsen untuk beribadah daripada di rumah, so I try to spend more time there. Semakin kesini, kok masjid jadi malah menjadi tempat yang nggak asik karena komunitas dalam masjid semakin nggak welcome dengan “orang asing”.

Pas gue ke masjid otomatis gue mau ibadah dong. Mau nggak ibadah pun, Masjid adalah rumah bagi semua umat islam. Mau posisinya gue jilbaban atau nggak harusnya semua orang bahagia dengan pemikiran “Alhamdulillah mudah-mudahan semakin sering ke masjid dan mudah-mudahan dibuka hatinya untuk menjadi pribadi yang lebih baik” bukannya malah “Itu cewek ngapain sih kesini? Kok nggak jilbaban? Atau kok jilbabnya gitu sih? Nggak syari”. Dalam hati, kayak semua cewek yang syari udah bener aja. Astagfirullah…

Kenapa kita harus membuat sikon yang malah membuat orang jadi nggak nyaman? Ingat kita semua ini harusnya bersaudara. Kita nggak boleh memperlakukan saudara dengan sikap seperti ini. Dan hey, rugi juga kali berpikiran negative sama orang. Capek mikir iya trus dapat dosa juga iya.

Fashion dan Beauty

Sekarang udah nggak awam lagi kalo Modest pun bisa Modis. Nggak jarang kita jumpai fashion designer ternama muslim Indonesia yang namanya super harum di mancanegara. Nggak jarang juga kita jumpai di Social Media, blogger-blogger kece yang membuat modest wear semakin menarik. Ini bagus banget karena semakin banyak wanita yang akhirnya memutuskan untuk berjilbab karena alasan nggak kece kalo pake jilbab udah bisa dicoret dalam daftar.

Meskipun banyak banget Muslimah Indonesia yang sangat modis, pada beberapa kesempatan masih juga ditemui beberapa orang rese dan monoton yang bikin kita jadi nggak bisa berkembang (kalo diambil pusing). Misalkan masalah pemakaian hijab turban, yang dipandang sebagai “Itu jilbab apaan sih? Atau jilbab kok lehernya kelihatan”. Mungkin kita bisa lebih positive thinking dengan berpikir, “Alhamdulillah dia sudah menuju kearah yang benar” atau dengan berpikir sebagai langkah awal untuk bisa ke jilbab yang lebih tertutup.

Masalah makeup juga kadang dipandang sebagai hal yang nggak pantas. Well kita semua cinta dengan natural beauty dan apresiasi keadaan dimana nggak semua orang ngerti dan tau bagaimana cara mengunakannya dengan baik dan benar. Tapi kadang gue juga masih mendapati orang-orang yang berkata “Ngapain sih makeupan, ntar muka lo rusak loh” atau “Gila lipstick lo cetar banget, tau nggak kalo itu sarang syaitan?”

Masalah makeup bikin muka rusak itu tergantung perawatan dan cara kita menjaga kulit wajah. Kita bisa lebih ekstra hati-hati dalam memilih produk dan menggunakannya dengan cara yang benar. Masalah lipstick cetar, yaudah mungkin posisi gue juga lagi on site di kalangan bapak-bapak takutnya malah gue kenapa-napa jadi bisa lah tone-nya gue kurangin. Tapi kalo kesempatannya pas, Bold Lipstick is Life babe.

Arabisasi

Ini terjadi mostly sama ibu-ibu nggak tau kenapa. Ya yang biasanya kemakan iklan sih ibu-ibu. Situasi dimana memandang segala sesuatu dari Arab adalah baik dan benar. Gue rada no comment sama ini sih. Meskipun pengen banget di comment tapi udah deh terlalu panjang. Cuma kita semua tau bahwa selalu ada baik dan buruknya sesuatu meskipun itu dari Arab ya. Dan gue anaknya pecinta produk local jadi meskipun iklannya ngomong “dipanen di mana begitu, trus diolah di Indonesia” (emang nggak bisa panen disini aja?) atau “merek local tapi yang mengusung tema luar negeri bagian mana gitu”(emang Indonesia kurang tema?) rada nggak masuk di gue. Apalagi yang mentah-mentah ngomongnya dari manaaaaaa gitu.

Drama & Sinetron

Satu hal yang paling gue sayangkan adalah ketika media dan infotainment memuat berita kedukaan seseorang dan menampakkan seolah-olah semua kedukaan, kemiskinan adalah milik umat islam. (WTF?)

Kita bisa liat di sinetron bahwa seseorang yang ditampilkan hidup susah, pasti berjilbab. Trus kalo ada artis yang kena masalah (even korupsi atau skandal sex), ke pengadilannya pasti jilbaban. Ya gue tau sih jilbab jadi membuat orang tampak tidak bersalah, tapi woy.. plis jangan muna deh. Kemarin-kemarin ngapain aja. Kenapa masalah itu nggak dihadapi dengan berani tanpa harus memanipulasi opini public? Nggak PeDe? Itu salah satu indikasi kalo seseorang itu emang bersalah nggak sih?

Soooooo…….

Panjang banget ya gue ngoceh? Intinya gini, nggak ada manusia yang sempurna. Mari kita memperbaiki diri mulai dari hal-hal yang kecil menuju ke almost perfect. Kalo ada yang dirasa kurang perbaiki, kalo orang lain yang kurang bisa memberi tahu. Dari pada diem aja?

Mudah-mudahan sharing ini bisa membuat kita menjadi manusia yang lebih baik dan ibadah kita semakin maknyus.