})(window,document,'script','https://www.google-analytics.com/analytics.js','ga'); ga('create', 'UA-85541756-1', 'auto'); ga('send', 'pageview');

Bertransaksi dengan E-Money

0 Comment

Uang merupakan alat yang sudah lama dikenal manusia untuk melakukan aktivitas yang disebut transaksi. Pada awalanya sebuah transaksi dilakukan dengan cara menukarkan barang dengan barang atau barang dengan jasa atau yang umumnya kita sebut sebagai sistem barter, transaksi tanpa melalui perantara uang. Namun pada tahap selanjutnya manusia menemui suatu masalah ketika ingin melakukan pertukaran dengan sistem barter tersebut, manusia kesulitan untuk menemukan orang yang mau menukarkan barangnya dengan barang mereka. Untuk menyelesaikan permasalahan tersebut maka manusia menciptakan sistem transaksi yang memiliki alat pertukaran standar berbentuk fisik yang sebenarnya masih dapat digolongkan sebagai komoditas berupa daun, buah-buahan, garam, batuan mulia, hingga yang paling ekstrem adalah tengkorak manusia digunakan sebagai alat pertukaran yang standar.

Manusia selalu mengembangkan cara untuk dapat mencapai kemudahan transaksi dan mengurangi risiko-risiko yang timbul pada saat transaksi, maka terciptalah logam mulia yang dibentuk menjadi kepingan koin-koin sebagai alat tukar. Namun koin-koin logam tersebut pada akhirnya juga menemui masalah pada sudut pandang kepraktisan dan keamanan. Hingga pada saat ini kita telah mengenal kertas yang memiliki kekuatan hukum sebagai standar alat tukar untuk melakukan transaksi, benda tersebut kita sebut sebagai uang. Jika kita menyadarinya, uang sejatinya adalah alat tukar berbentuk fisik untuk mengapresiasi hasil usaha atau karya milik kita, uang dihargai atas apa yang mampu dibelinya dan bukan atas kegunaan langsungnya.

Aktivitas transaksi di seluruh dunia terus bertumbuh pesat seiring kemudahan bertransaksi menggunakan uang kertas. Hingga pada suatu titik, kepraktisan menggunakan uang kertas tidak dapat membendung jumlah transaksi yang dilakukan oleh manusia pada setiap waktu tertentu atau frekuensi transaksi manusia. Bila kita bandingkan akan terlihat saat ini frekuensi transaksi kita sebagai manusia moderen jauh lebih tinggi bila dibandingkan dengan peradaban para pendahulu kita. Bayangkan saja! berapa kali kita melakukan transaksi dalam sehari? Membayar parkir, membayar transportasi, membayar makanan, membayarkan gaji pegawai, berbelanja, dan lain sebagainya. Frekuensi transaksi kita yang meningkat tersebut pada akhirnya menyebabkan peran kepraktisan uang kertas semakin menurun.

Lalu apa itu E-money? Beberapa dari kita mungkin disadari atau tidak sudah menggunakan E-Money ini. E-money adalah istilah asing untuk uang elektronik yang digunakan seperti halnya uang kertas yang kita kenal sekarang sebagai alat untuk bertransaksi. Kita mungkin sudah mengenal kartu langganan KRL Jabotabek dan kartu langganan toll atau e-toll card bukan? Kedua cara pembayaran tersebut dapat digolongkan dalam penggunaan E-money.

Dalam banyak situasi E-Money sangat bermanfaat karena praktis sehingga kita tidak perlu lagi membawa banyak uang dalam bentuk cash. Selain itu, dengan E-Money kita dapat membuat anggaran secara digital dan dapat pula digunakan untuk membayar tagihan rutin. Akan tetapi pada kenyataannya masih banyak merchant yang belum menggunakan E-Money dan pengetahuan tentang E-Money pun masih sangat sedikit terutama di pelosok negeri. Penyimpanan Prepaid Card seperti kartu Flazz pun harus diperhatikan karena tidak adanya sistem keamanan berupa PIN sehingga rawan jika sampai berpindah tangan. Selain itu sisa uang yang tersisa pada kartu pun tidak dapat terlihat jelas seperti pada saat membawa uang dalam bentuk cash.

Untuk kedepannya akan semakin banyak perusahaan yang menerbitkan prepaid card E-Money dan juga merchant yang bekerja sama dengan perusahaan penerbit prepaid card dengan melihat tingginya minat dari masyarakat terhadap jenis pembayaran elektronik ini. Semoga sistem ini dapat berkembang lebih luas sampai ke pelosok negeri dan masyarakat menjadi lebih sadar terhadap kemajuan teknologi dan aplikasinya dalam kehidupan sehari-hari.

0 Comments

Leave a Reply